Jumat, 17 Desember 2010

LAPORAN PENGUKURAN KONSTANTA PEGAS

PERCOBAAN PENGUKURAN
KONSTANTA PEGAS

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Laboratorium Fisika Pendidikan.

Program Studi Pendidikan Fisika





OLEH:
DWI RAHAYU WIDIYATI
1207053






FAKULTAS ILMU TARBIAH DAN KEGURUAN (FITK)
PENDIDIKAN FISIKA
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN JAWA TENGAH DI WONOSOBO
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Di masa yang modern ini, kita dituntut untuk dapat menguasai segala bidang. Tidak terkecuali dalam bidang pendidikan, karena pendidikan dianggap sebagai hal yang penting dalam kehidupan. Sehingga disekolah, setiap anak dituntut untuk dapat menguasai semua mata pelajaran. Dan salah satunya adalah fisika.
Karena fisika merupakan ilmu yang fundamental, yaitu sebagai dasar dari ilmu-ilmu lain. Maka kita semua harus dapat mempelajari dan memahaminya dengan baik. Akan tetapi disekolah,biasanya siswa menganggap bahwa fisika itu sulit. Dengan alasan fisika itu susah yaitu susah menghafalkan rumus dan kurang teliti dalan mengerjakan, mereka mengganggap suatu hal yang wajar dan biasa jika mereka mendapatkan nilai yang kurang bahkan jelek. Apalagi pada umumnya dalam menyampaikan materi pelajaran fisika, guru (pendidik) hanya menggunakan metode ceramah saja. Dan hal tersebut membuat siswa menjadi bosan dan tidak tertarik untuk mempelajarinya.
Sehingga untuk mempermudah siswa dalam memahami pelajaran, khususnya pelajaran fisika maka diperlukan metode lain. Karena fisika adalah sesuatu yang dapat dipelajari dengan nyata, sehingga kita dapat menggunakan metode percobaan/penelitian secara langsung. Dengan bantuan alat peraga (percobaan) diharapkan siswa dapat lebih mudah dalam memahami materi yang diberikan oleh oleh guru. Karena pembelajaran dengan metode eksperimen akan memberikan pengalaman secara langsung kepada siswa.
Maka khususnya untuk mempermudah dalam mempelajari bab Dinamika pada tingkat SMA, yaitu pada sup bab Gaya Pegas, penulis tertarik untuk membuat alat peraga yang sederhana. Sehingga dapat mempermudah pemahaman siswa dalam materi gaya pegas tersebut.

B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah diatas, maka dapat diidentifiksikan bahwa masalah yang ada adalah sebagai berikut :
1. Banyaknya siswa yang menganggap bahwa pelajaran fisika itu sulit.
2. Penyampaian materi yang dilakukan oleh guru terlalu monoton,yaitu dengan metode ceramah saja.
3. Kurangnya penggunaan media lain dalam pembelajaran,khususnya pembelajaran melalui laboratoriun (eksperimen).

C. Batasan Masalah
Untuk menghindari pembahasan masalah yang terlalu meluas dari rumusan masalah diatas, maka penelitian ini dibatasi hanya akan membahas materi gaya pegas dengan menggunakan alat peraga sederhana.

D. Rumusan Masalah.
Rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian gaya pegas dan konstanta pegas ini adalah :
1. Skema alat percobaan gaya pegas dan konstanta pegas.
2. Cara pengambilan data yang diperlukan dengan alat percobaan sederhana tersebut.
3. Menentukan hubungan antara gaya tarik berat (F) yang diberikan dengan pertambahan panjang pegas (x).
4. Gambar grafik hubungan antara gaya berat (F) dengan pertambahan panjang pegas (x).
5. Mencari besar konstanta pegas tersebut.
E. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah yang diuraikan diatas, maka tujuan dari penelitian dengan alat peraga sederhana gaya pegas dan konstanta pegas ini adalah :
1. Menambil data yang diperlukan untuk penelitian gaya pegas dan konstanta pegas (hukum Hooke).
2.Mendapatkan hubungan antara gaya berat(F)dengan pertambahan panjang pegas(x).
3.Mengganbarkan grafik antara gaya berat (F) dengan pertambahan panjang pegas (x).
4.Mencari konstanta pegas.

F. Manfaat Penelitian
Dari penelitian gaya pegas dan konstanta pegas dengan menggunakan alat peraga sederhana ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1.Dapat meningkatkan pemahaman terhadap materi gaya pegas.
2.Penguasaan konsep fisika tentang gaya pegas menjadi lebih maksimal dengan metode eksperimen menggunakan alat peraga yang sederhana.
3.Memberi pengetahuan tentang adanya media lain yang dapat digunakan dalam pembelajaran fisika,khususnya pada materi gaya pegas.
4.Meningkatkan kemampuan untuk mengambil data dengan benar.
5.Memberikan waktu lebih banyak untuk dapat melakukan pengamatan dan menganalisis data terhadap fenomena fisika yang terjadi disekitar kita.
6.Sebagai bahan kajian untuk penelitian dengan ruang lingkup yang lebih luas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Elastisitas
Elastisitas dapat didefinisikan sebagai sifat suatu benda atau bahan yang dapat kembali kebentuk semula.
Bola yang terbuat dari karet, bila diberi gaya tekan maka bentuknya tidak bulat lagi. Namun jika gaya tersebut dihilalangkan, bentuk bola tersebut juga akan kembali pada bentuk semula. Akan tetapi jika bola yang terbuat dari tanah liat diberi gaya yang sama dan gayanya dihilangkan, maka bentuk bola tersebut tidak dapat kembali pada bentuk semula.
Dari kejadian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa ada 2 golongan bahan, yaitu bahan elastis dan bahan tidak elastis. Bahan elastis adalah bahan yang dapat kembali pada bentuk semula jika diberi suatu gaya,contohnya adalah karet,baja dan kayu. Sedangkan bahan tidak elastis adalah bahan yang tidak dapat kembali lagi pada bentuk semula jika diberi gaya meski gaya tersebut telah dihilangkan, contohnya adalah tanah liat dan plastisin.

B. Hukum Hooke
Jika sebuah pegas diberi gaya berat dengan besar tertentu, maka secara otomatis pegas tersebut akan mengalami pertambahan panjang. Hubungan antara besar gaya yang bekerja pada pegas dengan pertambahan panjang pegas adalah konsep dasar dari hukum Hooke.Dan bunyi hukum Hooke sendiri sebagai berikut :
“ Bila pada sebuah pegas bekerja sebuah gaya, maka pegas tersebut akan
bertambah panjang sebanding dengan besarnya gaya yanmempengaruh pegas tersebut “

Sesuai dengan hukum Hooke tersebut, maka besar gaya berat (F) yang diberikanakan sebanding dengan pertambahan panjang pegas (x). Sehingga dapat digambarkan dengan grafik HUBUNGAN antara F-x
yaitu semakin besar gaya berat yang diberikan, maka semakin besar pula grafik tersebut menunjukan pertambahanpanjang pada pegas.
Dan secara sistematis, hukum Hooke dapat dituliskan dengan persamaan :
F = k . x (1.a)
F = | F | = k .| x |
= k . x (1.b)
Dengan :F = gaya yang bekerja pada pegas (N)
k = konstanta pegas (N/m)
x = pertambahan panjang pegas (m).
Konstanta pegas merupkan suatu angka tertentu yng menjadi salah satu karakteristik suatu pegas. Dan dalam satuan SI, konstanta pegas memiliki satuan N/m.
Ketika pegas ditarik atau ditekan, maka pada pegas bekerja gaya F yang menyebabkan pegas tersebut bertambah panjang atau bertambah pendek. Dan secara otomatis pegas tersebut memberikan gaya perlawanan terhadap gaya yang diberikan. Gaya perlawanan tersebut dinamakan gaya lenting pulih (Fp). Besar gaya lenting pulih sama dengan besar gaya yamg penyebabnya, akan tetapi arahnya berlawanan dengan gaya penyebabnya.
Fp = - F = - k . x (2.a)
Fp = | Fp | = | - F |
= k . | - x |
= k . x (2.b)
Gambar 2. Perubahan panjang pegas akibat gaya tarik/tekan.
Dari persamaan (2.a) , tanda (-) mempunyai arti bahwa gaya lenting pulih pegas berlawanan dengan arah pertambahan panjang atau pendek pegas.
Hukum Hooke untuk pegas, hanya berlaku pada batas gaya yang besarnya tertentu.jika gaya yang diberikan melmpaui batas tersebut, maka pegas akan menjadi patah.
Pada grafik hubungan F-x, menunjukan hubungan gaya terhadap pertambahan panjang untuk sebuah kawat alumunium. Titik A disebut sebagai batas elastisitas, yaitu pertambahan panjang (∆x) sebanding dengan gaya yang diberikan (F). Daerah OA disebut sebagai daerah elastis dan berlaku hukum Hooke. Pada daerah OA tersebut jika gaya yang diberikan dihilangkan, maka pegas/kawat akan kembali pada bentuk semula (awalnya).
Tetapi jika pegas/kawat tersebut terus diberi gaya hingga melampaui batas elastisitasnya, maka pegas/kawat tersebut akan memasuki daerah plastis (AC). Pada daerah ini,pertambahan panjang (∆x) tidak lagi berbanding lurus dengan gaya tarik(F), sehingga berarti hukum Hooke tidak berlaku lagi. Dan jika gaya yang diberikan dihilangkan,pegas/kawat tersebut tidak akan kembali pada bentuk semula (titik C) dan titik tersebut disebut titik patah (breaking poin). Gaya maksimum yang dapat diberikan pada pegas/kawat tanpa membuatnya patah disebut sebagai titik tekuk (titik B).
Pegas yang mendapat gaya tarik atau gaya tekan akan memiliki energi potensial, yang disebut sebagai potensial pegas. Pada saat pegas diberi gaya, maka usaha yang dilakukan untuk mengubah panjang pegas baik menekan atau menariknya adalah sama dengan luas dibawah kurva F - x (gambar.1) , sehingga :
W = luas segitiga kurva.
= ½ F . x
= ½ (k . x) x
W = ½ k . x² (3.a)
Usaha tersebut juga dapat ditentukan dengan mengintegrasikan gaya pegas pada perubahan panjang pegas tersebut :
W = ∫ F dx
= ∫ k . x dx
= ½ k . x² (3.b)
Menurut hukum kekekalan energi, usaha yang dilakukan oleh gaya pada pegas adalah perubahan energi potensial pegas, sehingga dapat dinyatakan :
∆ Ep = W = ½ k . x²
Ep – Ep0 = ½ k . x² (4.a)
Dari dasar tersebut, maka persamaan (4.a) dapat diperoleh bahwa Energi Potensial pegas sebagai berikut.
Ep = ½ k . x² (4.b)
Dengan :
Ep = Energi potensial pegas (J)
k = konstanta pegas (N/m)
x = pertambahan panjang pegas (m)

C. Susunan Pegas
Susunan pegas adalah rangkaian dua pegas atau lebih. Secara garis besar ada macam susunan pegas,yaitu susunan seri dan susunan paralel.
1.Susunan Seri Pegas.
Jika N pegas dengan konstanta pegas masing-masing k1, k2,..., kN yang disusun secara seri dan diberi gaya/beban F, maka pertambahan panjang pegas total adalah xs, yaitu :
F1 = F2 =...= FN (5)
xs = x1 + x2 +...+ xN (6)
Dari resamaan (5) dan (6), maka diperoleh konstanta pegas dengan susunan seri adalah :
xs = x1 + x2 +... + xN
Fs = F1 + F2 +...+ FN
ks k1 k2 kN
F = F + F + ...+ F
ks k1 k2 kN
1 = 1 + 1 +...+ 2
ks k1 k2 kN
1 = ∑ 1 (7.a)
ks i=1 ki

Bila N pegas yang disusun seri adalah pegas identik, maka konstanta pegasnya akan sama. Sehingga konstanta pegas dengan susunan seri adalah :
ks = k .
N (7.b)
> Gambar 4. susunan seri pegas

2.Susunan Paralel Pegas.
Apabila terdapat N pegas dengan konstanta pegas masing-masing k1, k2,...,Kn yang disusun paralel dan dibetri beban dengan gaya F, maka terjadi pertambahan panjang pegas total sebesar xp.


Gambar 5.Susunan paralel pegas
Dan dapat dituliskan :
x1 = x2 = ... = xN = xp = x (8)
Fp = F1 + F2 + ...+ FN (9)

Dari persamaan (8) dan (9) diatas,maka diperoleh konstanta pegas dengan susunan paralel adalah :
Fp = F1 + F2 +...+FN
kp . xp = k1. x1 + k2. x2 +...+ kN.xN
kp. Xx = k1 + k2 +...+ kkN
N
kp = ∑ ki (10.a)
i=1
Jika N pegas yang disusun paralel adalah pegas identik, maka konstanta pegasnya adalah :
kp = N . k (10.b)


D. Modulus Elastisistas
Modulus elastisitas bahan merupakan angka-angka yang menggambarkan tingkat elastisitas bahan. Modulus elastisitas didefinisikan sebagai perbandingan antara tegangan dengan rentangan (tegangan per renggangan). Modulus elastisitas juga disebut sebagai modulus Young, dan dapat dinyatakan dengan :
Y = tegangan tarik = F / A = F . lο (11)
regangan tarik ∆l / lο A . lο
dengan : Y = modulus elastisitas/modulus young (N/m² atau Pa)
F = gaya tarik atau gaya tekan (N)
lο= panjang mula-mula benda (m)
∆l = pertambahan panjang benda (m)
A = luas penampang bidang tarik atau tekan (m²)
Untuk modulus elastisitas/ Young beberapa bahan yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 1. Modolus Elastisitas Beberapa Bahan.
NO Bahan Modulus elastisitas/Young (N/m² atau Pa)
1 Alumunium 7,0 x 10¹º
2 Beton 2,3 x 10¹º
3 Tembaga 11 x 10¹º
4 Nikel 21 x 10¹º
5 Besi 21 x 10¹º
6 Baja 20 x 10¹º

Bila batas proposional gaya tidak terlampaui, maka perbandingan antara tegangan dengan renggangan adalah konstan. Sesuai hukum Hooke yang menyatakan bahwa dalam batas proposional, modulus elastisitas suatu bahan adalah tetap, hanya bergantung pada bahannya.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian
1.Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pendidikan Fisika. Di Gedung FITK Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ). Jalan Raya Kalibeber Km. 03 Wonosobo.
2.Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada hari Selasa 1 Juni 2010 sampai dengan tanggal 22 Juni 2010 di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo.

B. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode kuantitatif. Dan teknik pengambilan data dilakukan dengan eksperimen.

C. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.Statif
2.Pegas
3.Mistar / Penggaris
4.Beban denga masa yang berbeda-beda
5.Neraca.



D. Skema Alat Percobaan

Gambar 6. Skema alat percobaan.

E. Langkah Percobaan
Langkah-langkah percobaan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1.Menimbang semua beban dan mencatat massanya.
2.Mengaitkan ujung atas pegas pada statip dan mengukur panjang pegas sebagai panjang mula-mula (Io).
3.Mengaitkan ujung bawah pegas dengan beban yang paling kecil (m), kemudian mengukur panjang pegas sebagai I. Seperti pada gambar skema alat percobaan diatas.
4.Mengukur pertambahan panjang sebagai :
x = ∆I = I – Io.
5.Melepaskan beban.Dan mengganti beban yang berbeda massanya (m2), kemudian mengukur panjang pegas sebagai I2 .
6.Mencatat hasil percobaan dalam tabel percobaan.
7.Menghitung pertambahan panjang pegas (x atau ∆I).
8.Mengulangi langi langkah 1 sampai 6 untuk massa beban yang berbeda- beda,sehingga diperoleh data tentang beban dan pertambahan panjang yang berbeda-beda pula.

F. Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik eksperimen, yaitu pengukuran berulang. Dengan massa yang berbeda-beda (m1, m2,..., m5) sehingga dari data hasil percobaan diperoleh panjang pegas yang berbeda-beda juga (l1(1), l1(2),..., l1(5)).
Untuk mencari besarnya gaya yang bekerja pada pegas, maka dapat menggunakan persamaan F = w dan w = m . g. Karena massa bebannya berbeda-beda, sehingga didapat F1, F2,...,F5 yang berbeda pula. Untuk mencari besarnya pertambahan panjang pegas dapat dicari dengan x = ∆l = l1 - lο. Dengan nilai panjang pegas yang berbeda, maka pertambahan panjangnya juga berbeda (x1, x2, ..., x5).
Dan dari perhitungan tersebut didapat F1, F2, ..., F5 dan x1, x2, ..., x5, maka dicari hubungan antara gaya (F) terhadap pertambahan panjang pegas (x). Sehingga dapat digambarkan grafiknya.
Dari hasil perhitungan (F1, F2,...,F5 dan x1, x2,...,x5) tersesebut juga digunakan untuk nencari konstanta pegas. Yaitu dengan persamaan F = k . x. Dan data konstanta pegas tersebut dianalisis dengan rumus sebagai berikut :
Konstanta rata-rata = k = ∑k : n
Kesalahan mutlak ∆k = √∑(k - k)²
n.( n -1)
kesalahan relatif = ∆k x 100%
k



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Data Hasil Percobaan
Tabel 2.
Data hasil percobaan.

NO Massa / m
( kg ) Panjang Awal Pegas / lο ( m ) Panjang Akhir Pegas / l1( m )
1 0,05 0,1 0,14
2 0,06 0,1 0,15
3 0,07 0,1 0,16
4 0,08 0,1 0,168
5 0,09 0,1 0,18

B. Analisis Data
Dari tabel hasil percobaan diatas, maka dapat dicari besarnya gaya berat ( F ) dan pertambahan panjang pegasnya ( x ). Yaitu sebagai berikut :
1. F1 = m1.g x1 = l1(1) – lο
= 0,05kg . 9,8 (m/s²) = (0,14 - 0,1)m
= 0,49 N = 0,04 m
2. F2 = m2.g x2 = l1(2) – lο
= 0,06kg. 9,8 (m/s²) = (0,15 – 0,1)m
= 0,588 N = 0,05 m
3. F3 = m3.g x3 = l1(3) – lο
= 0,07kg. 9,8 (m/s²) = (0,16 - 0,1)m
= 0,686 N = 0,06 m

4. F4 = m4.g x4 = l1(4) – lο
= 0,08kg. 9,8 (m/s²) = (0,168 - 0,1)m
= 0.784 N = 0,068 m
5. F5 = m5.g x5 = l1(5) – lο
= 0,09kg. 9,8 (m/s²) = (0,18 - 0,1)m
= 0,882 N = 0,08 m
Dari hasil perhitungan F dan x diatas maka digunakan untuk mencari konstanta pegas( k ),yaitu :
1. k1 = F1
x1
= 0,49N : 0,04m
= 12,25
2. k2 = F2
x2
= 0,588N : 0,05m
= 11,76
3. k3 = F3
x3
= 0,686N : 0,06m
= 11,43
4. k4 = F4
x4
= 0,784N : 0,068m
= 11,53
5. k5 = F5
x5
= 0,882N : 0,08m
= 11,025

Tabel.3.
Hasil perhitungan

No F (N) x (m) Konstanta pegas
1 0,49 0,04 12,25
2 0,588 0,05 11,76
3 0,686 0,06 11,43
4 0,784 0,068 11,53
5 0,882 0,08 11,025
∑k 57,995


Nilai rata-rata Konstanta pegasnya yaitu :
k = ∑k : n
= 57,995 : 5
= 11,599
Kesalahan mutlak konstanta pegasnya yaitu :
∆k = √∑(k - k)²
n.( n -1)

=√ 0,8125541
5(5 – 1 )


=√ 0,040627705
=0,201563153
Jadi konstanta pegas tersebut adalah k = ( k ± ∆k ) = ( 11,599 ± 0,201563153 )
Kesalahan relatif konstanta pegasnya yaitu :
= ∆k x 100%
k
= 0,201563153 x 100%
11,599
= 0,017377632 x 100%
= 1,7377632 %


C. Pembahasan Hasil Analisis Data
Dari hasil analisis data percobaan diatas, didapatkan hasil yang berbeda-beda tergantung dari besarnya gaya yang diberikan pada pegas tersebut. Yaitu :
1. Panjang awal pegas (lο(1)) adalah 0,1m setelah diberi massa 0,05kg, panjang pegas akhir(l1(1)) menjadi 0,14m sehingga pertambahan pajang pegas(x1) adalah 0,04m.
2. Panjang awal pegas (lο(2)) adalah 0,1m setelah diberi massa 0,06kg, panjang pegas akhir(l1(2)) menjadi 0,15m sehingga pertambahan pajang pegas(x2) adalah 0,05m.
3. Panjang awal pegas (lο(3)) adalah 0,1m setelah diberi massa 0,07kg, panjang pegas akhir(l1(3)) menjadi 0,16m sehingga pertambahan pajang pegas(x3) adalah 0,06m.
4. Panjang awal pegas (lο(4)) adalah 0,1m setelah diberi massa 0,08kg, panjang pegas akhir(l1(4))menjadi 0,168m sehingga pertambahan pajang pegas(x4)adalah 0,068m.
5. Panjang awal pegas (lο(5)) adalah 0,1m setelah diberi massa 0,09kg, panjang pegas akhir(l1(5)) menjadi 0,18m sehingga pertambahan pajang pegas(x5) adalah 0,08m.
Dari data tersebut maka dapat dicari besarnya gaya ( F ) yang diberikan pada pegas dengan menggunakan rumus F = w = m . g dan besarnya konstanta pegas dengan menggunakan persamaan (1.b), yaitu :
1.Besar gaya ( F1 ) yang diberikan adalah 0,49N,sehingga konstanta pegasnya (k1) adalah 12,25.
2.Besar gaya ( F2 ) yang diberikan adalah 0,588N,sehingga konstanta pegasnya (k2) adalah11,76.
3.Besar gaya ( F3 ) yang diberikan adalah 0,686N,sehingga konstanta pegasnya (k3) adalah 11,43.
4.Besar gaya ( F4 ) yang diberikan adalah 0,784N,sehingga konstanta pegasnya (k4) adalah 11,53.
5.Besar gaya ( F5 ) yang diberikan adalah 0,882N,sehingga konstanta pegasnya (k5) adalah 11,025.
Dari data tersebut,maka dapat dicari hubungan antara besarnya gaya(F) yang diberikan terhadap pertambahan panjang pegas(x),yaitu semakin besar gaya yang diberikan maka pertambahan panjang pegasnya juga akan semakin besar pula. Dan dapat digambarkan grafiknya seperti berikut :
F
8
( x10-² )N
7

6

5

4
3
2
1

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 ( x10-² )m x Gambar.8 Grafik antara gaya ( F ) dan petambahan panjang pegas ( x )
Setelah semua nilai konstanta pegas dijumlahkan, didapatkan nilai rata-rata konstantanya adalah k = 11,599. Dan dengan rumus ∆k =√ ∑ ( k - k)² maka besarnya
n(n-1)
kesalahan mutlak konstantanya adalah 0,201563153. Untuk kesalahan relatif konstantanya dicari dengan persamaan ( ∆k/k ) x 100% , sehinga didapat kesalahan relatifnya sebesar 1,7377632 %.




BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Dari data percobaan didapat data sebagai berikut
Tabel.4.
Hasil perhitungan

No F ( N ) x (m) Konstanta pegas
1 0,49 0,04 12,25
2 0,588 0,05 11,76
3 0,686 0,06 11,43
4 0,784 0,068 11,53
5 0,882 0,08 11,025
∑k 57,995




Dan besar rata-rata konstan pegasnya adalah 11,599.
2. Dalam penelitian gaya pegas dan konstanta pegas terbukti bahwa Hukum Hooke adalah benar. Yaitu hubungan antara gaya yang diberikan pada pegas serbanding dengan pertambahan panjang pegas ( F = k . x ).
3. Alat percobaan sederhana gaya pegas dan konstanta pegas dapat digunakan dengan baik untuk proses pembelajaran fisika. Hal tesebut dibuktikan dengan nilai kesalahan mutlak konstantanya hanya sebesaar 0,201563153 dan kesalahan relatifnya adalah 1,7377632 %.
4. Metode pembelajaran dengan eksperimen merupakan salah satu metode yang tepat digunakan dan perlu dikembangkan dalam pembelajaran konsep fisika dari pada metode konvensional.




B. Saran
1. Untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam kegiatan pembelajaran khususnya fisika, salah satu upaya yaitu melalui metode pembelajaran yang tepat dan menyenangkan, salah satu metode tersebut yaitu metode eksperimen.
2. Pada percobaan gaya pegas dan konstanta pegas dengan alat peraga sederhana, ada baiknya mencoba dengan menggunakan massa beban yang lebih bervariasi lagi dan menggunakan beberapa pegas yang berbeda.
3. Dalam pembelajaran fisika pada bab lain, dapat dimungkinkan untuk menggunaan alat peraga sederhana juga.

C. Penutup
Dengan mengucapkan Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, penulis memanjatkan puji sukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan petunjuk dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan ini.
Penulis dalam penyusunan laporan ini menyelesaikannya dengan kondisi dan substansi sesuai dengan kemampuan dari penulis. Penulisan laporan ini adalah sebagai hasil dari percobaan, pengamatan dan analisis penulis terhadap alat peraga sederhana gaya pegas dan konstanta pegas ( hukum Hooke ) yang telah dibuat.
Dengan penuh kesadaran, Penulis menyadari bahwa diperlukan kemampuan dan keterampilan yang lebih untuk menjadi seorang analis. Sehingga diperoleh hasil yang memuaskan.
Pada ahirnya penulis menyadari jika tidak ada sesuatu yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Dengan hal ini penulis mengharapkan kritik,saran serta masukan dari berbagai pihak sebagai bahan evaluasi laporan ini dan dalam penulisan selanjutnya.
Semoga laporan yang sederhana ini dapat bermanfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan sebagai bahan kajian untuk penelitian dengan ruang lingkup yang lebih luas lagi. Amin Ya Rabbal ‘alamin.


DAFTAR PUSTAKA

Foster , Bob. 2005. Fisika SMA Kelas XI . Jakarta : Erlangga
Istiyono. 2004. Sains Fisika Jilid 1a SMA. Klaten : Intan Pariwara.
. 2005. Fisika Jilid 2a SMA. Klaten : Intan Pariwara.
Sugiyono. 2007. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta.
UNES.-----. Panduan Praktikum Fisika Dasar 1. Semarang : FMIPA UNES.

















BIODATA PENULIS

Nama : Dwi Rahayu Widiyati
NIM : 1207053
Program Studi : Pendidikan Fisika
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat , Tanggal Lahir : Magelang, 05 Juli 1989
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Mergosari, RT 08 / RW 02
Kec. Sukoharjo
Kab. Wonosobo.
Alamat email : dwiayuwidiyati@ymail.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar